Life is Journey

Kalau Hidup itu Mudah, Dimana Keseruan Petualangannya?

IMAGINATION

"imagination is more important than knowledge" Einstein

Sherlock Holmes

When you have eliminated the impossible whatever remains however improbable must be the truth.

Dr. Seuss

Think left and think right and think low and think high. oh, the things you can think up if only you try.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Tampilkan postingan dengan label cerita sehari-hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita sehari-hari. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Februari 2014

Have you ever....


Sebuah percakapan dalam cerita pendek “Have You Ever”

Darma : “Howie, just do what you have to do. Take my bike and go up there, or walk, whatever, but do something.”
Howard : “What if it’s just a big, cosmic joke?”
Darma : “Then… laugh!”

Percakapan itu merupakan salah satu dialog favorit dalam cerpen Have You Ever di buku Madre, Kumpulan Cerita racikan Dewi Lestari.
Saat membaca bagian itu, seringkali membuatku menertawakan diri sendiri. Kebodohan akan rasa takut untuk mencapai kebutuhan hidup yang menyamar menjadi rasa penasaran. Terkadang kita berpura-pura tidak perlu menjawab rasa penasaran itu. Menenangkan tapi menenggelamkan.
Ketakutan pada “kecewa” yang bisa saja muncul kapan saja, seringkali menjadi penghambat. Tapi, saat kita menemui rasa kecewa, seperti kata Darma, kita hanya perlu tertawa.

“Hidup telah menunjukkan dengan caranya sendiri bahwa aku senantiasa dipandu. Tak perlu tahu ke mana ini semua berakhir. Bagiku, itulah keajaiban yang kucari, yang dihidangkan semesta bagiku, dan kulahap habis pada satu petang di titik paling timur Benua Australia. Jiwaku kenyang sudah.” Have You Ever – Dee

/"what if it's just a big cosmic joke?" / "Then... laugh!"/

Rabu, 03 April 2013

Keresahan Anak Manusia yang Susah Tidur.

Halo, jarang-jarang loh saya nge post jam segini. jam segini biasanya lagi nyenyak-nyenyaknya tidur, kalo kebangun dikit, pasti langsung tidur lagi. Sebenarnya sih maunya tidur kayak biasanya, Tidur nyenyak kayak gini nih:

imut banget, kan.


Tapi, harapan hanya ada di angan. Nggak tau kenapa kok susah tidur, biasanya sekalipun minum  kopi rasa-rasa atau kopi hitam tetap bisa tidur lelap. tinggal nempel bantal, ada kipas, pasti bisa langsung tidur. Kayaknya ini gara-gara rasa resah dan gusar. Jadinya kayak gini:

merem-melek-merem-melek

Setelah menelaah lebih jauh, ada banyak rasa resah dan gusar yang berkeliaran di dalam pikiran, mulai dari keinginan lanjut kuliah kriminologi yang kemungkinan nggak kesampaian, nyari kerjaan yang sesuai minat rancangan novel yang belum selesai, lomba-lomba nulis cerpen, desain alas kaki dan lain-lain yang hadiahnya bikin ngiler. (entar deh, daftar lomba yang lumayan menggiurkan tak post di blog ini. entar-entar, deh.)

Tiba-tiba saja muncul kutipan dari Patrick Star:
"hidup ini memang tidak adil, jadi biasakanlah"
dan tiba-tiba kepikiran macam-macam tentang keadilan, apa emang bener keadilan itu tidak ada, yang adil itu yang seperti apa. Apa dengan bersikap adil, orang-orang disekitar kita juga akan bersikap adil. soalnya pernah baca tulisan di sebuah gambar yang di share sama salah satu akun FB, katanya sih intinya dengan bersikap adil, belum tentu kita akan mendapatkan keadilan. (nah loh, tambah nggak bisa tidur)
Tapi ya sudahlah, yang penting kita nggak jahat sama orang lain. daripada ngelantur terus, entar malah jadi nggak bisa tidur sama sekali. padahal besok, eh nanti pagi mau balikin toga, iya toga yang buat wisuda itu, bukan tanaman obat keluarga. aku habis wisuda loh, hihihiiii

selamat malam menjelang subuh.
(nge post sambil ditemani backstreet boys dan james morrison)

*susah banget publikasikan pos ini, sinyalnya jahat. sampe sempet nambahin kalimat ini, mau langsung di close tab, tapi takutnya belum kesimpen. sia-saia dong nulisnya. #curhattambahan


Kamis, 14 Februari 2013

Ingatan.

Semakin lama, semakin menjauh dari kehidupan masa lalu yang didamba tapi sekaligus ingin untuk dapat dilupa. Secara kasat mata, semua nampak jauh. Namun, jika diselami lagi hanya ada selaput tipis yang membatasi.


Setiap ingatan yang ada, memang harusnya bukan untuk dilupa. seperti kata banyak orang orang yang memang bijak atau sekedar merasa bijak, bahwa pengalaman rasa dan laku pada masa lampau akan menjadi pelajaran bagi kita di masa mendatang. Tapi, apa daya, diri ini memang bukan orang bijak yang mampu berbuat sedemikan mudahnya untuk menjadikan segala sesuatu sebagai bahan pelajaran seperti halnya menghitung satu tambah satu menjadi dua.

Seandainya saja, diri mampu memilih ingatan mana saja yang dapat dilupa dan dijadikan pelajaran, tentu akan membuat semuanya menjadi lebih mudah. Tidak perlu ada perasaan ragu yang membebat.

Semakin berusaha untuk melepaskan ingatan yang mengerat, rasanya semakin susah untuk memisah. Akhirnya kuputuskan untuk menjadikannya warna tersendiri dalam hidup, hanya tambahan pengalaman pikir, rasa dan laku yang tak kunjung menemukan ujungnya.

(ditengah malam, ditemani kotak elektrik warna warni)

Selasa, 15 Januari 2013

Menjelang Sidang Skripsi...

Tulisan saya kali ini akan sedikit bercerita tentang pengalaman rasa dan pikir saya pribadi menjelang sidang skripsi, jadi sementara review buku dan selainnya di liburkan terlebih dahulu. Apalagi hari ini saya melihat salah seorang teman yang sidang skripsi. Tidak tahu kenapa, kok malahan saya yang deg-degan, padahal sidang saya masih hari jumat dalam minggu ini. Banyak yang harus dipersiapkan menjelang sidang skripsi, mulai dari bahan presentasi berupa slide hingga kue dan nasi yang menjadi suguhan. Rasanya semua isi pikiran jadi campur aduk, kalau dibuat perumpamaan, pikiran ini nggak jauh beda dengan es campur, mulai dari dawet, sirup, susu, kolang-kaling, blewah, nanas, kelapa muda diaduk-aduk sampai tak jelas bentuknya. Pada akhirnya pikiran yang campur aduk tersebut membuat saya sedikit curcol dalam blog ini.

Sidang skripsi kali ini benar-benar menentukan hasil kuliah saya selama ini. yaah.. walaupun nggak semua bahan kuliah berkaitan dengan materi yang saya teliti, tapi paling tidak melatih keterampilan lainnya sedikit-sedikitlah. Banyak hal yang perlu dipersiapkan, dan persiapan paling penting yang benar-benar harus dimatangkan menurut saya, penguasaan materi dan mental. Apalagi pas melihat jadwal sidang dan daftar penguji saya yang termasuk kategori dosen perfeksionis sudah membuat perasaan dan pikiran jadi nggak karu-karuan. Jadi, dalam waktu 69,5 jam lagi saya mau nggak mau, siap nggak siap harus menjalankan sidang skripsi.Dalam waktu 69,5 jam tersebut saya harus membuat slide dan mempelajari lagi isi skripsi saya, padahal mengumpulkan niat saja belum. Kalau dihitung lagi, dari 69,5 jam tersebut masih dipotong waktu tidur selama 24 jam, waktu makan dan istirahat kira-kira selama 12 jam, waktu untuk mengerjakan naskah dan meliput kegiatan selama kerja sebanyak 5 jam, waktu yang habis digunakan untuk mengerjakan tugas UAS take home sebanyak 4 Jam, waktu yang habis dijalan selama pulang pergi ke kampus sebanyak 6 jam. Jadi waktu saya yang tersisa sebanyak 18,5 jam saya. Berarti tidak sampai satu hari saya mesti belajar lagi tentang data, teori dan metodologi yang saya gunakan. selain itu, saya juga dalam jangka waktu tersebut saya mesti membuat slide power point. 

Semoga dengan sisa waktu tersebut bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin, kalau kurang ya tinggal potong waktu tidur. Doakan semoga sidang skripsi saya lancar ya, kawan.